Join The Community

Search

Showing posts with label Kejawen. Show all posts
Showing posts with label Kejawen. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

Sedulur Papat Kalima Pancer

Dalam ajaran Jawa dikenal istilah "Sedulur pdpat kalima pancer". Pancer adalah diri kita. Setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin di dalam perut ibunya, keempat saudara ini nyata. Kasat mata. Bisa dilihat dengan mata kepala. Dapat dilihat dengan mata telanjang. Lho, apa itu saudara empat? Marilah kita simak bait tembang Sunan Kalijaga berikut ini.



Ana kidung akadang premati among tuwuh ing kuwasanira nganakaken saciptane kakang kawah puniku
kang rumeksa ing awak mami anekakaken sedya pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah//
Ponang getih ing rahina wengi angrowangi Allah kang kuwasa andadekaken  karsane
puser kuwasanipun nguyu-uyu sambawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku
jangkep kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang//
Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sung­guh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan ke­kuasaannya/ yang menyampaikan tujuan.
Sedangkan darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa. Mewujudkan Kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya, me­merhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaan­ku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal de­ngan wujudku.


Dari kedua bait kidung itu, jelas sudah apa yang dinamakan saudara empat. Semuanya merupakan saudara kandung ketika manusia masih berupa janin. Mereka semua menjaga pertumbuhan manusia di dalam kandungan ibu. Anak yang pertama tentu saja kakak dari sang janin, yaitu ketuban atau kawah. Ketika seorang ibu melahirkan, yang pertama kali keluar adalah ketuban. Karena itu disebut saudara tua. Dia berfungsi sebagai penjaga badan sang janin di dalarn rahim.

Setelah itu, saudara sekandung yang lebih muda adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin di dalam rahim. Dinyatakan bahwa ari-ari memayungi tindakan sang janin di dalam perut ibu. Yang menyampaikan ke tujuan. Begitu bayi lahir, maka ari-ari itu ikut ke luar. la mengantarkan sampai ke tujuan. Yaitu lahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya.
Nah, berikutnya adalah darah. Inipun saudara sang janin. Tanpa ada darah janin bukan saja tidak bisa tumbuh, tapi juga akan mengalami keguguran. Dalam kata-kata Sunan, darah disebut membantu Allah siang dan malam. Untuk mewujudkan kehendak Tuhan. Jangan salah pengertian, lho! Allah sendiri hakikatnya tidak memerlukan bantuan siapa pun. Ini dari segi hakikat. Tapi dari segi syariat, dari segi mekanisme alamnya, kehendak Allah untuk menumbuh-kem­bangkan janin hingga menjadi bayi itu dilewatkan darah. Seolah­olah darah itu nyawa bagi janin.

Saudara yang keempat adalah pusar. Jawa: puser atau urudel. Dalam bahasa Jawa Kuno, istilah untuk pusar adalah nabi. Yang dimaksudkan dengan pusar, tentu saja tall pusar. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya hanyalah bekas menempelnya tali pusar pada perut. Ya, tali pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Ia sebagai slat untuk menyalurkan makanan dari ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu bayi mendapatkan pasokan makanan dari induknya. Pusar berfungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi.

Umumnya orang menganggap bahwa ketuban, ari-ari, darah, dan tali pusar itu hanya wahana. Atau, alat yang diperlukan untuk per­tumbuhan jabang bayi di dalam perut. Begitu bayi dilahirkan, maka semua itu tak berfungsi lagi. Beres sudah jika bayi telah lahir. Tak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan. Dan, yang demikian ini me­rupakan pandangan materialistik. Pandangan yang serba duniawi. Me­nurut pandangan ini apa yang bersifat spiritual itu tidak ada. Ajaran saudara empat juga tidak terdapat di Jazirah Arabia. Karena basis kepercayaan mereka sebelum kedatangan Islam, adalah pandangan dunia semata.
Lain dengan pandangan Jawa. Pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apa pun. Yang saya maksud, orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa, meski beragama apa pun tetap me­mercayai bahwa dalam hidup di dunia ini saudara empat itu tetap menjaga balk masih di kandungan maupun di alam nyata. Yang kembali ke anasir-anasir bumf, air, udara, dan api hanyalah keempat jasadnya. Begitu bayi lahir, jasad saudara empat itu kembali ke asalnya. Air ketuban dan darah dibersihkan, begitu bayi dilahirkan. Ari-ari dan potongan tali pusar dipendam atau dihanyutkan di sungai. Jasad yang terlahir hidup adalah bayinya. Sedangkan secara metafisik saudara empat kita itu tetap menjaga kita hingga kita mati.

Apa pandangan Jawa itu bertentangan dengan ajaran Islam? Atau, pandangan Jawa itu tidak ada di dalam Islam? Yakinlah saudara, bahwa pandangan tersebut ada di dalam Alquran. Alias, ada di dalam Islam. Cuma, kita yang beragama Islam kurang mau memerhatikan ayat-ayat yang bernuansa metafisik. Kita lebih mudah terjebak ayat­ayat yang bersifat lahiriah. Coba, kita perhatikan ayat "In kullu nafsin lammd 'alayha hr2fzzh, setiap dirt niscaya ada penjaganya."' Atau, yang ada pada ayat lainnya: "Wa huwa al-qahir fawq abddih wa yursil
`alaykum hafazhah hattd id,za jd'a ahadakum al-mawt tawaffathu ru­sulund wa hum Id yufarrithun."
Dialah yang bcrkttasa atas semua hamba-Nya. Dan Dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu. Jika seseorang su­dah waktunya mati, maka utusan-utusan Kami itu mewafatkannya tanpa
keliru.
Nah, dari ayat itu gamblang sekali. Jelas sekali keterangannya! Ternyata, dalam model kehidupan di alam ini, Tuhan memberikan penjaga-penjaga kepada setiap diri. Meskipun sudah disebutkan di awal ayat bahwa Tuhan itu Mahakuasa atas segala hamba-Nya, tapi ada mekanisme alam yang telah ditetapkan-Nya. Tuhan tidak ber­tindak secara langsung. Ada beberapa penjaga yang dikirimkan kepada setiap orang. Bukan satu penjaga buat seorang. Tapi beberapa penjaga! Tentu saja penjaga-penjaga ini tidak terlihat oleh mata jasmani. Karena mereka berupa roh. Kalau toh ada orang yang dapat melihat mereka, itu disebabkan yang bersangkutan berjuang keras untuk melihat me­reka. Atau, orang itu berada dalam situasi yang menyebabkan saudara­saudara rohaninya itu menampakkan diri. Itupun hanya dirinya yang bisa melihat mereka. Orang lain di sekitarnya tidak melihat mereka.

Dalam agama Kristen pun disebutkan bahwa setiap orang di dunia ini diiringi malaikat (Matius 18: 10; Kisah Rasul 12: 15). Ma­laikat menyertai manusia untuk menjaganya. Untuk memberikan per­lindungan, sepanjang manusianya sendiri berbuat kebajikan. Dijelaskan bahwa anak-anak kecil memiliki malaikatnya di surga. Mengapa di­sebut anak kecil? Karena berbuat sesuai dengan nuraninya. Belum dipengaruhi oleh hawa nafsu clan lingkungannya. Anak kecil memang masih tulus hidupnya. Karena itu kanjeng Nabi Isa a.s. bersabda bahwa seseorang dapat memasuki surga bila dia hidup bagaikan anak kecil. Manusia yang tulus hatinya.

Penjaga itu bertindak secara akurat. Tanpa keliru! Jadi, tidak ada
salah cabut nyawa dalam kehidupan MI. Mengapa? Karena mereka itu ada di sisi kita pada setiap saat, di mana saja. Mbok meski kita bersembunyi di dalam gedung berlapis platina, ya mereka akan me­nunaikan tugas mereka dengan benar. Karena mereka dari awalnya dicipta clan mendapatkan perintah Tuhan untuk menjaganya. Lho, bukankah selama ini yang mencabut nyawa itu malaikat Izrail seorang diri?

Coba perhatikan kedua ayat tersebut di atas. Yang ada itu kata hdfzzh [bentuk tunggall dan hafazhah [bentuk jamak] untuk kata penjaga. Tidak disebut kata malaikat pada kedua ayat itu. Ayat yang pertama menginformasikan bahwa setiap diri itu ada penjaganya. Se­dangkan yang kedua memberitahukan kepada kita bahwa ada beberapa penjaga, bukan cuma dua penjaga, yang akan mewafatkan seseorang bila sudah tiba masa ajalnya. Tanpa keliru! Kata "mewafatkan" sendiri pada mulanya tidak berarti mematikan. Arti asalnya itu menyem­purnakan. Jadi, kalau seseorang mati itu sebenarnya telah lunas apa­apa yang diembannya. Karena itu, mati bunuh diri [karena putus asa dalam menempuh hidup di dunia ini diharamkan oleh setiap agama dan keyakinan. Meskipun di Jepang dulu ada sepuku, kewajiban bunuh diri karena tak mampu memikul tanggung jawab, tapi dalam keadaan normal orang Jepang dilarang untuk melakukan bunuh diri.

Applikasi System Penanggalan Jawa

Sistim penanggalan jawa disebut juga penanggalan jawa candrasangkala atau perhitungan penanggalan bedasarkan peredaran bulan mengitari bumi. Petungan penanggalan jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan hijriah. Namun demikian pencocokkan ini bukanlah menjiplak sepenuhnya juga memperhunakan perhitungan yang rumit oleh para leluluhur kita. Ada perbedaan yang hakiki antara sistim perhitungan penanggalan jawa dengan penanggalan hijriah, perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan.
Candrasangkala jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup – antara pukul 17.00 sampai dengan 18.00), sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan hijriah ditentukan melalui hilal dan rukyat.

Mencari hari baik

Dalam melakukan hajat perkawinan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya. Kebanyakan orang jawa dahulu, mendasarkan atas hari yang berjumlah 7(senin-minggu) dan pasaran yang jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, jelasnya : tiap hari tentu jatuh pada pasaran tertentu.

Menurut peritungan jawa pada umumnya dikenal 7 hari yang masing-masing mempunyai jumlah berlainan;
akad (minggu) jumlah naptu 5
senen (senin) jumlah naptu 4
selasa (selasa)jumlah naptu 3
rebo (rabu) jumlah naptu 7
kemis (kamis) jumlah naptu 8
jumuah (jum’at)jumlah naptu 6
setu (sabtu) jumlah naptu 9

Selain hari, orang jawa juga sangat percaya adanya watak yang diakibatkan dari pengaruh dasaran. Dikenal adanya 5 pasaran yaitu

kliwon jumlah naptunya 8
legi jumlah naptunya 5
pahing jumlah naptunya 9
pon jumlah naptunya 7
wage jumlah naptunya 4


Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan

Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak lelaki masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang (dikurangi) sembilan.

Misalnya :

Kelahiran anak perempuan adalah hari jumat (neptu 6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang 9 sisa 1
Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5) legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa 1.
Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini:

Apabila sisa:

1 dan 4 : banyak celakanya
1 dan 5 :bisa
1 dan 6 : jauh sandang pangannya
1 dan 7 : banyak musuh
1 dan 8 : sengsara
1 dan 9 : menjadi perlindungan
2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya
2 dan 3 : salah seorang cepat wafat
2 dan 4 : banyak godanya
2 dan 5 : banyak celakanya
2 dan 6 : cepat kaya
2 dan 7 : anaknya banyak yang mati
2 dan 8 : dekat rejekinya
2 dan 9 : banyak rejekinya
3 dan 3 : melarat
3 dan 4 : banyak celakanya
3 dan 5 : cepat berpisah
3 dan 6 : mandapat kebahagiaan
3 dan 7 : banyak celakanya
3 dan 8 : salah seorang cepat wafat
3 dan 9 : banyak rejeki
4 dan 4 : sering sakit
4 dan 5 : banyak godanya
4 dan 6 : banyak rejekinya
4 dan 7 : melarat
4 dan 8 : banyak halangannya
4 dan 9 : salah seorang kalah
5 dan 5 : tulus kebahagiaannya
5 dan 6 : dekat rejekinya
5 dan 7 : tulus sandang pangannya
5 dan 8 : banyak bahayanya
5 dan 9 : dekat sandang pangannya
6 dan 6 : besar celakanya
6 dan 7 : rukun
6 dan 8 : banyak musuh
6 dan 9 : sengsara
7 dan 7 : dihukum oleh istrinya
7 dan 8 : celaka karena diri sendiri
7 dan 9 : tulus perkawinannya
8 dan 8 : dikasihi orang
8 dan 9 : banyak celakanya
9 dan 9 : liar rejekinya

Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, ditambah neptu pasaran hari perkawinan dan tanggal (bulan jawa) semuanya dijumlahkan kemudian dikurangi/ dibuang masing tiga, apabila masih sisa :

1 = berarti tidak baik, lekas berpisah hidup atau mati
2 = berarti baik, hidup rukun, sentosa dan dihormati
3 = berarti tidak baik, rumah tangganya hancur berantakan dan kedua-duanya bisa mati.

Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, dijumlah kemudian dikurangi / dibuang empat-empat apabila sisanya :

1 = getho, jarang anaknya,
2 = gembi, banyak anak,
3 = sri banyak rejeki,
4 = punggel, salah satu akan mati

Hari kelahiran mempelai laki-laki dan mempelai wanita, apabila :

Ahad dan ahad, sering sakit
Ahad dan senin, banyak sakit
Ahad dan selasa, miskin
Ahad dan rebo, selamat
Ahad dan kamis, cekcok
Ahad dan jumat, selamat
Ahad dan sabtu, miskin

Senen dan senen, tidak baik
Senen dan selasa, selamat
Senen dan rebo, anaknya perempuan
Senen dan kamis, disayangi
Senen dan jumat, selamat
Senen dan sabtu, direstui

Selasa dan selasa, tidak baik
Selasa dan rebo, kaya
Selasa dan kamis, kaya
Selasa dan jumat, bercerai
Selasa dan sabtu, sering sakit
Rebo dan rebo, tidak baik
Rebo dan kamis, selamat
Rebo dan jumat, selamat
Rebo dan sabtu, baik

Kamis dan kamis, selamat
Kamis dan jumat, selamat
Kamis dan sabtu, celaka

Jumat dan jumat, miskin
Jumat dan sabtu celaka

Sabtu dan sabtu, tidak baik

Hari-hari untuk mantu dan ijab pengantin

(baik buruknya bulan untuk mantu):

1. Bulan jw. Suro : bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai)
2. Bulan jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai)
3. Bulan jw mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai)
4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai)
5. Bulan jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai)
6. Bulan jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak
7. Bulan rejeb : banyak kawan selamat
8. Bulan jw. Ruwah : selamat
9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai)
10. Bulan jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai)
11. Bulan jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman (jangan dipakai)
12. Bulan jw. Besar : senang dan selamat

Bulan tanpa anggara kasih

Hari anggara kasih adalah selasa kliwon, disebut hari angker sebab hari itu adalah permulaan masa wuku. Menurut adat jawa malamnya (senin malam menghadap) anggara kasih orang bersemedi, mengumpulkna kekuatan batin untuk kesaktian dan kejayaan. Siang harinya (selasa kliwon) memelihara, membersihkan pusaka wesi aji, empu mulai membikin keris dalam majemur wayang.

Bulan – bulan anggoro kasih tidak digunakan untuk mati, hajat-hajat lainnya dan apa saja yang diangggap penting.

Adapun bulan-bulan tanpa anggara kasih adalah:

1. Dalam tahun alib bulan 2 : jumadilakhir dan besar
2. Dalam tahun ehe bulanl 2 dan : jumadilakhir
3. Dalam tahun jimawal bulan 2 : suro dan rejeb
4. Dalam tahun je bulan 2 : sapar
5. Dalam tahun dal bulan 2 : yaitu sapar dan puasa
6. Dalam tahun be bulan 2 : mulud dan syawan
7. Dalam tahun wawu bulan 2 : bakdomulud/syawal
8. Dalam tahuin jimakir bulan 2 : jumadilawal dan dulkaidkah

Saat tatal

Saat tatal dibawah ini untuk memilih waktu yang baik untuk mantu juga untuk pindah rumah, berpergian jauh dan memulai apa saja yang dianggap penting.

Ketentuan saat itu jatuh pada pasaran (tidak pada harinya ) :
  • Pasaran legi : mulai jam 06.00 nasehet.mulai jam 08.24 rejeki : mulai jam 25.36 rejeki mulai dri jam 10 48 selamat, mulai jam 13.12 pangkalan atau (halangan) mulai jam 15.36 pacak wesi
  • Pasaran pahing : mulai jam 06.00 rejeki, jam 08.24 selamat, jam 10.48 pangkalan, jam 13.12 pacak wesi, jam 15.36 nasehat. 
  • Pasaran pon : mulai jam 06.00 selamat, jam 08.24 pangkalan, jam 10.48 pacak wesi, jam 13.12 nasehat, jam 15.36 rejeki 
  • Pasaran wage mulai jam 06.00 pangkalan, jam 08.24 pacak wesi, jam 13.12 nasehat jam 15.36 selamat. 
  • Pasaran kliwon, mulai jam 06.00 pacak wesi, jam 08.24 nasehat, jam 10.48 rejeki, jam 13-12 selamat jam 13.36 pangkalan.

Hari pasaran untuk perkawinan

Neptu dan hari pasaran dijumlah kemudian dikurangi/dibuang enam-enam apabila tersisa:
  1. jatuh, mati, (tidak baik) asalnya bumi
  2. jatuh, jodoh (baik) asalnya jodoh dengan langit 
  3. jatuh , selamat atau baik asalnya barat 
  4. jatuh, cerai atau tidak baik asalnya timur 
  5. jatuh, prihatin (tidak baik) asalnya selatan 
  6. jatuh, mati besan (tidak baik) asalnya utara
Dalam berdagang orang jawa mempunyai petungan (prediksi) khusus untuk mencapai sukses atau mendapatkan angsar (pengaruh nasib) yang baik, sehingga menjadikan rezekinya mudah. Diantaranya petungan tersebut sebagai berikut :

Dalam “kitab primbon” (pustaka kejawen) terdapat berbagai cara dan keyakinan turun-temurun yang harus dilakukan orang yang akan melakukan kegiatan usaha perdagangan. Untuk memulai suatu usaha perdagangan orang jawa perlu memilih hari baik, diyakini bahwa berawal dari hari baik perjalanan usahapun akan membuahkan hasil maksimal, terhindar dari kegagalan.

Menurut pakar ilmu kejawen abdi dalem karaton kasunanan surakarta, ki krm tb djoko mp hamidjoyo ba bahwa berdasarkan realita supranatural, menyiasati kegagalan manusia dalam usaha perlu diperhatikan. Prediksi menurut primbon perlu diperhatikan meski tidak sepenuhnya diyakini. Menurut kitab tafsir jawi, dina pitu pasaran lima masing-masing hari dan pasaran karakter baik. Jika hari dan pasaran tersebut menyatu, tidak secara otomatis menghasilkan karakter baik. Demikian juga dengan bulan suku, mangsa, tahun dan windu, masing-masing memiliki karakter baik kalau bertepatan dengan hari atau pasaran tertentu.

Golek dina becik (mencari hari yang baik) untuk memulai usaha dagang pada hakekatnya adalah mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan karakter baik. Misalnya pada hari rebo legi mangsa kasanga tahun jimakir windu adi merupakan penyatuan anasir waktu yang menghasilkan karakter baik.

Setiap karya akan berhasil sesuai dengan kodrat, jika dilakukan dalam kondisi waktu yang netral dari pencemaran, sengkala maupun sukerta. Manusia diberi kesempatan oleh tuhan untuk beriktiar menanggulangi sukerta dan sengkala dengan melakukan wiradat. Misalnya dengan ruwatan atau dengan ajian rajah kalacakra, sehingga kejadian buruk tidak menjadi kenyataan.

Orang yang akan membuka usaha pun dapat melakukan upaya sendiri pada malam hari sebelum memulai usaha, yaitu berdoa mendasari doa kepada tuhan sambil mengucapkan mantera rajah kalacakra salam, salam, salam yamaraja jaramaya, yamarani niramaya, yasilapa palasiya, yamidora radomiya, yamidasa sadamiya, yadayuda dayudaya, yasilaca silacaya, yasihama mahasiya. Kemudian menutup dengan mantera allah ya suci ya salam sebanyak 11 kali.

Untuk usaha perdagangan orang jawa yang masih percaya pada petung, akan menggunakannya baik untuk menentukan jenis barang maupun tempat berdagang dan sebagainya. Petung tersebut didasarkan weton (kelahiran dari yang bersangkutan)

Peluang merupakan filsafat kosmosentris bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga geraknya tidak dapat lepas dari gerak alam, sebagaimana waktu dan arah mata angin.

Orang jawa mempunyai keyakinan bahwa saat dilahirkan manusia tidak sendirian karena disertai dengan segala perlengkapannya. Perlengkapan itu merupakan sarana untuk bekal hidup dikemudian hari, yaitu bakat dan jenis pekerjaan yang cocok. Di dalam ilmu kejawen kelengkapan itu dapat dicari dengan petung hari lahir, pasaran, jam, wuku tahun dan windu.

Menurut usman petung sekedar klenik atau gugon tuhon melainkan merupakan hasil analisa dari orang-orang jawa pada masanya. Hasil analisa itu ditulis dalam bentuk primbon. Dengan petungan jawa, orang dapat membuat suatu analisa tentang anak yang baru lahir berdasarkan waktu kelahirannya. Misalnya anak akan berhasil jika menjadi wartawan, atau sukses jika menjadi pedagang.

Petung yang demikian itu juga digunakan di dalam dunia perdagangan. Orang jawa masih mempercayainya, akan menggunakan petung dengan cermat. Dari menentukan jenis dagangan waktu mulai berdagang diperhitungkan. Semua sudah ada ketentuannya berdasar waktu kelahiran yang bersangkutan.

Penerapan petung untuk usaha perdagangan akan menambah kemungkinan dan percaya diri untuk meraih sukses. Kepercayaan diri akan membuat lebih tepat dalam mengambil keputusan. Prediksi menurut petung di dalam perdagangan bukan hanya ada pada budaya orang jawa saja. Dalam budaya cina misalnya, hingga kini perhitungan itu masih berperan besar, sekali pun pengusaha cina itu sudah menjadi konglomerat.
Di cina petung itu ada dalam kitab pek ji atau pak che (delapan angka) yang juga berdasarkan kelahiran seseorang, yaitu tahun kelahiran memiliki nilai 2, bulan nilai 2, hari memiliki nilai 2 dan jam kelahiran nilai 2.

Meskipun orang lahir bersamaan waktu, rezeki yang diperoleh tidak sama karena yang satu menggunakan petung sedangkan yang lainnya tidak.

Banyak pula orang yang tidak mempercayai petung. Mereka menganggapnya klenik atau tahayul. Mereka berpendapat dengan rasionya dapat manipulasi alam. Anggapan demikian belum pas, meskipun manusia dapat merekayasa, alam ternyata akan berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri

Untuk perhitungan mendirikan / pindahan rumah

A. Pertama-tama yg diperhitungakan adalah bulan jawa, yaitu :

1. Bulan sura = tidak baik
2. Bulan sapar = tidak baik
3. Bulan mulud (rabingulawal) = tidak baik
4. Bulan bakdamulud (rabingulakir) = baik
5. Bulan jumadilawal = tidak baik
6. Bulan jumadilakir = kurang baik
7. Bulan rejeb = tidak baik
8. Bulan ruwah (sakban) = baik
9. Bulan pasa (ramelan) = tidak baik
10. Bulan sawal = sangat tidak baik
11. Bulan dulkaidah = cukup baik
12. Besar = sangat baik




Berdasarkan perhitungan diatas, bulan yg baik adalah : bakdamulud, ruwah, dulkaidah, dan besar.

B. Langkah kedua yaitu menghitung jumlah hari dan pasaran dari suami serta istri.


1. Suami = 29 agustus 1973
- rabu = 7
- kliwon = 8
- neptu (total) = 15


2. Istri = 21 desember 1976
- selasa = 3
- kliwon = 8
- neptu (total) = 11



Jumlah neptu suami + istri = 15 + 11 = 36

C. Langkah ketiga, menghitung pancasuda.

Jumlah ((neptu suami + neptu istri + hari pindahan/pendirian rumah) : 5). Bila selisihnya 3, 2, atau 1 itu sangat baik. Cara ini disebut pancasuda.

Pancasuda :

1. Sri = rejeki melimpah
2. Lungguh = mendapat derajat
3. Gedhong = kaya harta benda
4. Lara = sakit-sakitan
5. Pati = mati dalam arti luas
Lalu mengurutkan angka hari pasaran mulai dari jumlah yang paling kecil yaitu (selasa (3) + wage (4) = 7), hingga sampai jumlah yang paling besar yaitu (sabtu (9) + pahing (9) = 18.

7 + 36 = 43 : 5 sisa 3 = cukup baik
8 + 36 = 44 : 5 sisa 4 = tidak baik
9 + 36 = 45 : 5 sisa 5 (yg habis dibagi 5 dianggap sisa 5) = jelek sekali
10 + 36 = 46 : 5 sisa 1 = baik sekali
11 + 36 = 47 : 5 sisa 2 = baik
12 + 36 = 48 : 5 sisa 3 = cukup baik
13 + 36 = 49 : 5 sisa 4 = tidak baik
14 + 36 = 50 : 5 sisa 5 = jelek sekali
15 + 36 = 51 : 5 sisa 1 = baik sekali
16 + 36 = 52 : 5 sisa 2 = baik
17 + 36 = 53 : 5 sisa 3 = cukup baik
18 + 36 = 54 : 5 sisa 4 = tidak baik

Dari paparan tersebut diketahui hari baik untuk mendirikan rumah tinggal, khusus bagi pasangan suami–istri yang hari-pasaran-lahir keduanya berjumlah 36 adalah :

Terbaik 1 :
A. Hari-pasaran berjumlah 10 ( selasa pon, jumat wage dan minggu legi)
B. Hari-pasaran berjumlah 15 (rabu kliwon, kamis pon dan jumat pahing)

Terbaik 2 :
A. Hari-pasaran berjumlah 11 (senin pon, selasa kliwon, rabu wage dan jumat legi)
B. Hari-pasaran berjumlah 16 (rabu pahing, kamis kliwon dan sabtu pon)

Terbaik 3 :
A. Hari-pasaran berjumlah 7 (selasa wage)
B. Hari-pasaran berjumlah 12 (senin kliwon, selasa pahing, rabu legi, kamis wage dan minggu pon)
C. Hari-pasaran berjumlah 17 (kamis pahing dan sabtu kliwon)
D. Selanjutnya pilih salah satu dari 21 hari baik yang berada dalam bulan bulan bakdamulud, bulan ruwah, bulan dulkaidah dan bulan besar,

Yaitu:
1. Bulan bakdamulud (rabingulakir)
Bulan baik untuk mendirikan sesuatu termasuk rumah tinggal. Keluarga yang bersangkutan mendapat wahyu keberuntungan, apa yang diinginkan terlaksana, cita-citanya tercapai, selalu menang dalam menghadapi perkara, berhasil dalam bercocok-tanam, berkelimpahan emas dan uang, mendapat doa restu nabi, dan lindungan dari allah.
2. Bulan ruwah (sakban)
Bulan baik untuk mendirikan rumah tinggal. Rejeki melimpah dan halal, disegani, dihormati dan disenangi orang banyak, mendapat doa rasul.
3. Bulan dulkaidah
Cukup baik, dicintai anak istri, para orang tua, saudara, dan handaitaulan. Dalam hal bercocok-tanam lumayan hasilnya. Banyak rejeki dan cukup uang. Keadaan keluarga harmonis, tentram, damai dan mendapatkan doa dari rasul.
4. Bulan besar.
Baik, banyak mendapat rejeki, berkelimpahan harta-benda dan uang. Anggota keluarga yang berdiam di areal rumah-tinggalnya yang dibangun pada bulan besar merasakan ketentraman lair batin, serta dihormati.

Terbaik 1 :
1. Selasa pon,
2. Jumat wage,
3. Minggu legi,
4. Rabu kliwon,
5. Kamis pon,
6. Jumat pahing,


Terbaik 2 :
7. Senin pon,
8. Selasa kliwon,
9. Rabu wage,
10. Jumat legi,
11. Rabu pahing,
12. Kamis kliwon,
13. Sabtu pon,


Terbaik 3 :
14. Selasa wage,
15. Senin kliwon,
16. Selasa pahing,
17. Rabu legi,
18. Kamis wage,
19. Minggu pon,
20. Kamis pahing,
21. Sabtu kliwon,


Contoh : jum’at pahing
- 20 april 2007
- 07 september 2007
- 21 desember 2007

Dalam astrologi jawa juga dikenal adanya bintang, yang biasa disebut wuku; ada 30 wuku yang masing-masing mempunyai dewa (betara) pelindung (yang kemudian sering dijadikan simbol dari wuku tersebut, seperti misalnya dalam zodiak sagitarius disimbolkan manusia dengan badan kuda sedang memanah), hari baik, hari sial, dan watak serta bakat sendiri-sendiri. Ke 30 wuku tersebut adalah sebagai berikut:

1 . Sinta dewa pelindung dewa betara jamadipati
2. Landep dewa pelindung dewa betara mahadewa
3. Wukir dewa pelindung dewa betara mahajekti
4. Kurantil dewa pelindung dewa betara langsur
5. Tolu dewa pelindung dewa betara baju
6. Gumbreg dewa pelindung dewa betara tjandra
7. Warigalit dewa.pelindung dewa betara asmara
8. Warigagung dewa pelindung dewa betara maharesi
9. Djulungwangi dewa pelindung dewa betara sambu
10. Sungsang dewa pelindung dewa betara gana
11. Galungan dewa pelindung dewa betara kamadjaja
12. Kuningan dewa pelindung dewa betara indera
13. Langkir dewa pelindung dewa betara kala
14. Mandasija dewa pelindung dewa betara brama
15. Djulungpudjud dewa pelindung dewa betara guritna
16. Pahang dewa pelindung dewa betara tantra
17. Kuruwelut dewa pelindung dewa betara wisnu
18. Marakeh dewa pelindung dewa betara surenggana
19. Tambir dewa pelindung dewa betara siwah
20. Medangkungan dewa pelindung dewa betara basuki
21. Maktal dewa pelindung dewa betara sakri
22. Wuje dewa pelindung dewa betara kuwera
23. Manahil dewa pelindung dewa betara tjitragotra
24. Prangbakat dewa pelindung dewa betara bisma
25. Bala dewa pelindung dewa betari durga
26. Wugu dewa pelindung dewa betara singdjalma
27. Wajang dewa pelindung dewa betari sri
28. Kuwalu dewa pelindung dewa betara sadana
29. Dukut dewa pelindung dewa betara sakri
30. Watugunung dewa pelindung dewa betara anantaboga

Dalam memperhitungkan perjodohan seorang harus menghitung jumlah naptu dari hari pasaran kedua calon pengantin tersebut. Menurut kepercayaan di jawa, apabila naptu dari dua orang yang akan dijodohkan berjumlah 25 maka hubungan kedua belah tersebut tidak bisa dilanjutkan. Hal ini disebabkan 25 apabila dikurangi 24 tinggal satu (1) angka i ini tidak bisa dibagi dua (perkawinan melibatkan dua orang). Angka 24 ini diambil dari angka 3 dikalikan 8, jadi pada pokoknya angka yang paling dihindari adalah tiga (3). Angka tiga dianggap angka sial, karena angka ini adalah angka pati, tali yang mengikat orang mati (jawa=pocongan) berjumlah tiga, jumlah tali itulah yang kemudian dianggap sebagai jumlah angka yang membawa sial. Dan nampaknya orang jawa pada umumnya masih sangat mempercayai perhitungan ini.
Selain perhitungan jumlah hari pasaran, perkawinan pada masa lalu juga mempunyai pantangan tertentu, seseorang tidak boleh menikah dengan orang yang rubuh karang yaitu:
- orang yang tinggal saling berhadapan
- orang yang tinggal saling membelakangi (ketemu punggung)
- orang yang tinggal tepat bersebelahan di kanan kiri

By Sync